Al-Qur’an sebagai Adz-Dzikru

Al-Qur’an sebagai Adz-Dzikru (Peringatan) bagi Manusia

Salah satu nama agung Al-Qur’an adalah Adz-Dzikru (ٱلذِّكْرُ) yang berarti peringatan. Al-Qur’an tidak hanya dibaca untuk pahala, tetapi hadir sebagai alarm ruhani—menghidupkan hati, meluruskan jalan, dan mengingatkan manusia dari kelalaian.

1. Dalil Al-Qur’an tentang Al-Qur’an sebagai Peringatan

Allah ﷻ berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ
“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”
(QS. At-Takwir: 27)

Dalam ayat lain:

ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
“Shad. Demi Al-Qur’an yang mempunyai peringatan.”
(QS. Shad: 1)

Dan juga:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa fungsi utama Al-Qur’an adalah mengingatkan manusia akan hakikat hidup, tujuan penciptaan, serta konsekuensi amalnya.

2. Dalil Hadits tentang Fungsi Peringatan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Al-Qur’an itu adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pembela yang dibenarkan pembelaannya. Barang siapa menjadikannya di depan (sebagai pedoman), ia akan menuntunnya ke surga. Dan barang siapa menjadikannya di belakangnya, ia akan menggiringnya ke neraka.”
(HR. Ibnu Hibban)

Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi peringatan yang menentukan arah kehidupan seseorang.

3. Mengapa Manusia Harus Diingatkan?

Secara fitrah, manusia memiliki kecenderungan lupa dan lalai. Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ
“Dan sungguh telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, tetapi ia lupa.”
(QS. Thaha: 115)

Kata nasiya (lupa) menjadi akar kata insan (manusia). Secara linguistik, manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Karena itu, ia membutuhkan dzikr (peringatan).

Secara Ilmiah dan Psikologis

Dalam psikologi modern, manusia memiliki kecenderungan cognitive bias dan hedonic adaptation—mudah terbiasa dengan nikmat dan lupa bersyukur. Manusia juga cenderung menormalisasi dosa kecil hingga menjadi kebiasaan. Tanpa pengingat eksternal yang kuat, hati menjadi tumpul (qalbun qasiy).

Al-Qur’an hadir sebagai sistem pengingat berulang (repetitif), menggunakan kisah umat terdahulu, janji dan ancaman, serta gambaran surga dan neraka untuk menggugah kesadaran.

4. Contoh Kejadian Nyata

Kisah Umar bin Khattab r.a.
Sebelum masuk Islam, Umar dikenal keras terhadap kaum Muslimin. Namun ketika mendengar bacaan QS. Thaha, hatinya luluh. Peringatan Al-Qur’an mengubah arah hidupnya secara total—dari musuh Islam menjadi pembela Islam.

Fenomena Taubat karena Mendengar Ayat
Banyak kisah nyata di zaman sekarang—mantan narapidana, pecandu narkoba, atau pelaku maksiat—yang berubah setelah mendengar ayat tentang kematian atau hari kiamat. Ayat seperti:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)

menjadi “tamparan sadar” yang menggugah hati.

Peringatan Kolektif dalam Bencana
Ketika terjadi bencana alam, banyak orang kembali kepada Allah, memperbanyak doa dan sedekah. Al-Qur’an telah mengingatkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa peringatan Allah bisa hadir dalam berbagai bentuk.

5. Hikmah Al-Qur’an sebagai Peringatan

Menjaga manusia dari kesombongan.

Mengingatkan akan kematian dan akhirat.

Meluruskan ketika menyimpang.

Menenangkan hati yang gelisah.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Kesimpulan

Al-Qur’an sebagai Adz-Dzikru adalah cahaya peringatan bagi seluruh manusia. Ia mengingatkan ketika kita lalai, menegur saat menyimpang, dan membimbing ketika tersesat. Manusia membutuhkan peringatan karena sifat alaminya adalah lupa, tergoda, dan mudah terbuai dunia.

Maka, menjadikan Al-Qur’an sebagai peringatan berarti membacanya dengan tadabbur, mengamalkannya, dan menjadikannya standar dalam mengambil keputusan hidup. Tanpa peringatan, manusia berjalan tanpa arah. Dengan Al-Qur’an, hidup menjadi terarah menuju ridha Allah.

Tinggalkan komentar