Hikmah Lapar dalam Perspektif Islam dan Sains
Lapar sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Secara naluriah, manusia ingin kenyang, nyaman, dan tercukupi. Namun dalam Islam, rasa lapar—terutama dalam ibadah puasa—bukan sekadar pengalaman fisik, melainkan sarana pendidikan jiwa yang mendalam. Bahkan, ketika dipahami dengan benar, lapar justru menjadi pintu kebahagiaan spiritual.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa lapar adalah bagian dari ujian kehidupan. Namun menariknya, ujian tersebut diiringi dengan “kabar gembira” bagi orang yang sabar. Artinya, lapar bukan sekadar penderitaan, tetapi proses menuju kemuliaan.
1. Lapar sebagai Pendidikan Ruhani
Dalam ibadah puasa, lapar bukanlah tujuan, melainkan sarana. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai dari apa? Dari hawa nafsu, dari amarah, dari perilaku yang merusak diri sendiri. Saat seseorang lapar, ia belajar mengendalikan dorongan paling dasar dalam dirinya. Ia mampu meninggalkan yang halal demi menaati perintah Allah. Di sinilah nilai spiritualnya: kesadaran bahwa ketaatan lebih penting daripada keinginan.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa kenyang berlebihan seringkali mengeraskan hati, sedangkan lapar yang terkontrol melembutkan jiwa dan menghadirkan kekhusyukan. Maka, lapar dalam puasa menjadi jalan menuju tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
2. Lapar dan Empati Sosial
Salah satu hikmah terbesar dari lapar adalah tumbuhnya empati. Orang yang terbiasa kenyang mungkin sulit memahami penderitaan fakir miskin. Namun ketika ia merasakan haus dan lapar seharian, muncul kesadaran sosial yang lebih dalam.
Inilah sebabnya Ramadhan identik dengan sedekah dan kepedulian. Lapar mengikis ego dan membangkitkan solidaritas. Dalam perspektif sosiologi, pengalaman bersama (shared experience) memperkuat kohesi sosial. Puasa menjadikan umat Islam merasakan kondisi yang sama secara kolektif—sebuah latihan persaudaraan universal.
3. Perspektif Sains: Manfaat Fisiologis dan Psikologis
Dari sisi ilmiah, penelitian modern menunjukkan bahwa puasa yang teratur memiliki manfaat kesehatan. Konsep intermittent fasting dalam dunia medis menunjukkan bahwa jeda makan dapat:
Membantu proses detoksifikasi alami tubuh
Meningkatkan sensitivitas insulin
Mengaktifkan proses autophagy (peremajaan sel)
Menstabilkan hormon dan metabolisme
Selain itu, secara psikologis, kemampuan menahan lapar meningkatkan self-control dan ketahanan mental. Dalam teori psikologi modern, kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) berkorelasi dengan keberhasilan jangka panjang dan stabilitas emosional.
Artinya, hikmah puasa tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga rasional dan ilmiah.
4. Lapar yang Membahagiakan
Mengapa orang berpuasa bisa tetap tersenyum walau lapar?
Karena ia memiliki tujuan yang lebih tinggi. Ia berharap ridha Allah. Ia tahu bahwa setiap rasa haus dan lapar bernilai pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya.” (HR. Muslim)
Inilah rahasianya: lapar menjadi ringan ketika dihubungkan dengan makna. Dalam psikologi eksistensial, manusia mampu menanggung penderitaan jika ia mengetahui maknanya. Puasa memberikan makna spiritual pada rasa lapar—sehingga ia berubah menjadi kebahagiaan batin.
Kesimpulan
Dalam perspektif Islam dan sains, lapar bukan sekadar kondisi fisik. Ia adalah:
Sarana pendidikan jiwa
Penguat empati sosial
Latihan pengendalian diri
Proses kesehatan tubuh
Jalan menuju kebahagiaan spiritual
Lapar yang diniatkan karena Allah bukan penderitaan, melainkan investasi akhirat.