Menyambut Ramadhan dengan Perencanaan Sempurna
Gagal Dalam Merencanakan Puasa Ramadhan = Merencanakan Kegagalan Untuk Mendapat Pahala dan Keberkahan
Persiapan Mental agar Puasa Lebih Bermakna
Pendahuluan
Dalam dunia militer, terdapat slogan umum yang sering dipakai dan diterapkan dalam semua kegiatan, yatu Slogan , “ Gagal dalam Merencanakan = Merencanakan Kegagalan. Melakuka target penyerangan, dikaji, dianalisis, dibahas, Digambar sudut-sudut tempatnya agar target operasi berhasil dengan cepat dan akurat. Itu masalah dunia, kenapa untuk urusan akherat tidak direncanakan dengan sebaik-baiknya ? yang nilai pahalanya besar, jamuan Allah, berkah yang besar, ampunan yang besar, kemuliaan yang terbesar, ketenanagan dan Rahmat Allah yang besar pada Bulan Ramadhan.
Persiapan yang paling besar adalah persiapan psikologis atau persiapan mental karena Persiapan mental sebelum Ramadhan sangat penting karena kualitas ibadah sangat dipengaruhi kesiapan psikologis. Dalam psikologi modern dikenal konsep mental readiness, yaitu kesiapan kognitif dan emosional sebelum menjalani aktivitas berat. Islam telah mengajarkan konsep ini jauh sebelumnya melalui anjuran menyambut Ramadhan dengan iman dan niat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas, tetapi peristiwa spiritual besar yang perlu disambut secara sadar.
________________________________________
1. Mengubah Mindset: Ramadhan sebagai Opportunity, bukan Burden
Allah berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menjelaskan bahwa puasa bukan beban, tetapi sarana kebaikan.
Tinjauan Psikologi
Teori Cognitive Reframing menjelaskan bahwa cara seseorang memandang suatu aktivitas akan menentukan pengalaman emosinya.
Jika Ramadhan dipandang sebagai beban → muncul stres.
Jika dipandang sebagai kesempatan → muncul motivasi & kebahagiaan.
________________________________________
2. Menumbuhkan Rasa Rindu kepada Ramadhan
Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira:
“Barangsiapa bergembira dengan datangnya Ramadhan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka.”
(HR. Baihaqi)
Kegembiraan menyambut Ramadhan merupakan indikator iman.
Tinjauan Ilmu Perilaku
Dalam teori Motivation Anticipation, manusia akan lebih bersemangat jika memiliki harapan reward besar di masa depan.
Ramadhan memberikan reward terbesar: ampunan dan surga.
________________________________________
3. Membersihkan Hati sebelum Ramadhan
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)
Puasa tidak maksimal tanpa hati yang bersih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ibnu Majah)
Maknanya: tanpa perbaikan akhlak, puasa kehilangan nilai spiritual.
Tinjauan Psikologi Emosi
Penelitian menunjukkan bahwa memaafkan menurunkan stres, tekanan darah, dan meningkatkan kebahagiaan.
________________________________________
4. Menetapkan Target Ramadhan
Allah berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Teori Goal Setting (Locke & Latham)
Menetapkan target meningkatkan keberhasilan hingga 90%.
Tanpa target → Ramadhan berlalu tanpa perubahan signifikan.
________________________________________
Kesimpulan
Persiapan mental Ramadhan mencakup:
• Reframing mindset
• Anticipation reward spiritual
• Emotional cleansing
• Goal setting
Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tetapi transformasi psikologis dan spiritual.