Pendahuluan
Ade Armando seorang Dosen senior UI ( Univeritas Indonesia) dan pengamat social pernah berkomentar di media sosial dalam videonya menyebutkan bahwa : “Buat apa kita menghafalkan Al Quran ?, toh sudah ada dalam bentuk pdf, dalam cetak off line tergeletak dimana saja”. Menurut belia, menghafal AL Quran adalah sesutu hal yang mubadzir. Sekilas nampaknya pendapat beliau benar, tetapi dengan menghafalkan Al Quran justru banyak kemnafaatannya, mungkin beliau belum belajar secara menyeluruh.
Dalam Alquran Surat Al Hijr ayat 9 Allah berfirman yang artinya “ Kami yang menurunkan Al Quran dan kami pula yang menjaganya”, menurut Ade Armando kita tidak perlu repot-repot menjaga Alquran karena Allah yang menjaganya, kita tidak usah menghafal Alquran karena sudah ada versi cetakan online dan versi cetakan offline-nya. Lalu timbul pertanyaan, apakah menjaga Al Quran akan diserahkan pada Allah, sementara kita tidak berbuat apa-apa ? peran kita Dimana sebagai seorang Muslim ?
Pertama, Alquran itu bukan hanya sekedar bacaan tetapi Alquran adalah manhajul hayyah atau pedoman hidup bagi seluruh manusia seperti halnya mobil yang baru diciptakan tentu saja ada petunjuk manualnya. Begitu juga manusia diciptakan pasti ada petunjuk manualnya yaitu AlQuran supaya kehidupannya terarah, indah , tenang dan jadi Khlaifah Fil Ardi. Contohnya adalah menutup aurat, itu merupakan kewajiban dalam AL Quran. Sebagai makhluk yang berpikir yang dianugerahi akal, manusia dapat menemukan keterangan ini dalam AL Quran. Aapapun permasalahan kehdiupan manusia, jawabannya ada dalam Al Quran.
Kedua, Orang-orang yang menghafal Alquran sesungguhnya bukanlah sedang menghafalkan kata-kata yang tidak memiliki misi khusus sebagaimana orang-orang yang menghafalkan syair-syair atau puisi yang ditulis oleh manusia, namun ia sedang menghafalkan sesuatu yang memberi kehidupan pada jiwa akal juga jasadnya. Hal ini dikatakan dalam Quran surat Asyura ayat 52 yang artinya demikianlah kami wahyukan Ruh Al-Quran dengan perintah kami. Artinya di dalam roh itu, itulah yang dapat menyebarkan mendorong, menggerakkan dan mengembangkan kehidupan di dalam hati dan realita aktivitas yang dapat disaksikan Berasal dari mana? ya berasal dari ruh itu Sebagaimana Sayyid Qutub kutub juga mengatakan, “ Dan kalian adalah ruh baru dalam tubuh umat ini maka hidupkanlah umat ini dengan Alquran”. Dengan demikian sering kita dengar bahwa Alquran adalah santapan jiwa artinya ayat-ayat Alquran sangat dibutuhkan oleh rohani kita, sebagaimana tubuh kita membutuhkan makanan.
Jika tubuh bisa menjadi sakit karena kurang makan maka rohani pun akan sakit jika kurang sentuhan Alquran sebagai nutrisinya. Rohani yang sehat dan kuat terkadang melebihi kekuatan tubuh yang sehat dan kekar apalagi jika kedua unsur tersebut sehat maka sungguh telah menyatu dalam dirinya dua kekuatan dan kebaikan
Definisi Menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an (ḥifẓ al-Qur’an) adalah proses menjaga ayat-ayat Al-Qur’an agar tetap tertanam dalam hati dan dapat dilafalkan tanpa melihat mushaf. Para penghafal Al-Qur’an disebut ḥuffāẓ (jamak dari ḥāfiẓ), yaitu orang-orang yang memelihara Kalamullah dari lupa dan perubahan. Menghafal bukan sekadar menumpuk hafalan, tetapi juga menjaga bacaan, memahami maknanya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Urgensi Menghafal Al-Qur’an
- Bentuk Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya Seseorang yang menghafal Al-Qur’an menunjukkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara memelihara firman-Nya dalam dada. Menghafal berarti menghormati wahyu, menghargai petunjuk, dan menjaga warisan spiritual terbesar umat Islam.
- Kedudukan Mulia di Sisi Allah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Orang yang menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an mendapat derajat tinggi di dunia dan akhirat. Di akhirat kelak, ia akan diberi mahkota kemuliaan dan jubah kehormatan karena hafalannya.
- Penolong di Hari Kiamat Al-Qur’an akan menjadi pembela bagi penghafalnya di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim) Hafalan Al-Qur’an bukan hanya amal dunia, tetapi juga menjadi sumber keselamatan di akhirat.
- Menjaga Kemurnian Kalamullah Dengan banyaknya penghafal di setiap generasi, Al-Qur’an tetap terjaga dari perubahan. Inilah salah satu bentuk nyata dari janji Allah: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9) Para huffaz menjadi bagian dari penjaga agama Allah.
- Membentuk Kepribadian Qur’ani Menghafal Al-Qur’an bukan hanya mengisi otak, tapi juga membentuk hati. Penghafal yang istiqamah dalam membaca dan memahami maknanya akan memiliki akhlak mulia, sabar, dan tawadhu. Al-Qur’an menjadi cermin perilaku mereka.
Dampak Spiritual dan Psikologis
Menghafal Al-Qur’an melatih fokus, kedisiplinan, dan ketenangan batin. Setiap kali seseorang melantunkan ayat-ayat Allah, hatinya akan tenang sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28) Hafalan yang diulang-ulang juga memperkuat daya ingat, menyeimbangkan emosi, dan memperdalam kesadaran spiritual.
Tantangan dan Solusinya
Menghafal Al-Qur’an memang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan niat yang lurus. Tantangan seperti rasa malas, lupa, atau sibuk dapat diatasi dengan:
- Menetapkan target harian yang realistis,
- Menjaga waktu khusus untuk muraja’ah (mengulang hafalan), • Berada dalam lingkungan yang mendukung,
- Dan memperkuat niat karena Allah semata, bukan karena pujian.
Masihkah kita memberi alasan dan lari dari menghafalka Al Quran?
Semoga kita diberi keistikamahan dalam mengahfalkan Al-Quran sehingga menjadi jalan kemulyaan kita semua.
Penulis : Tim Assatid MTs Al Falah Tanjungjaya, 8 Oktober 2025